Iklan

Bupati

Bupati

Polres

Polres
,

38 Jumlah BCB Kabupaten Sekadau, Tugu Jam Tidak Masuk Daftar

by Redaksi
Juli 28, 2022, 14:15 WIB Last Updated 2022-07-29T13:00:43Z



Tugu Merdeka

SEKADAU, SK. Sebanyak 38 Benda Cagar Budaya (BCB) milik kabupaten Sekadau yang tersebar di seluruh pelosok, namun dalam daftar tersebut tugu Jam yang terletak di pasar Sekadau tidak termasuk didalamnya, bahkan yang masuk daftar BCB adalah tugu Merdeka, yang berada di pasar Plamboyan kecamatan Sekadau hilir.


"Sepanjang yang saya tau, memang tugu jam belum masuk dalam benda Cagar Budaya," kata Nazur Yardana,S,PD kepala bidang Kebudayaan Disporabudpar kabupaten Sekadau menjawab media ini, Kamis (28/07/2022) melalui pesan singkatnya.


Menurut dia, untuk menentukan apakah barang tersebut masuk dalam BCD telah diatur dalam Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2020 tentang Benda Cagar Budaya sesuai dalam pasal 7 ayat 1 huruf a,b, dan huurf d.


Yang berbunyi benda bangunan atau struktur dapat diusulkan sebagai BCB adalah

a. Berusia 50 tahun atau lebih.

b. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun.

c.  Memiliki arti khusus bagi sejarah ilmu pengetahuan, pendidikan,agama dan atau kebudayaan dan

d. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.


"Untuk menentukan benda tersebut masuk dalam BCB sudah di atur dalam Perda nomor 6 tahun 2020," ungkap.


Lain hal dengan tugu merdeka, yang terletak di depan pasar Plamboyan, tugu di dirikan di kisaran tahun 1946/1947 oleh seorang kiayi bernama Kiayi Mersyid yang pada waktu itu beliau sebagai mandor pembangunan jembatan Penanjung.


Kiayi Mersyid adalah orang kepercayaan dari Keraton Kusuma Negara, oleh karena itu beliau diberikan kepercayaan untuk membangun aset Cagar Budaya yang dimiliki oleh kabupaten Sekadau saat ini.


Sejarah mencatat bahwa Tugu Merdeka atau tugu 45 sebagai penanda Kemerdekaan Indonesia bentuk dan design Tugu Merdeka.


Hingga saat ini tugu.Merdeka masuk dalam kategori Icon kabupaten Sekadau.


Berikut daftar BCB kabupaten Sekadau sesuai dat dari dinas Pemuda Olahraga, Budaya dan Pariwisata. (Tim)





DATA BCB BIDANG KEBUDAYAAN Lokasi

Desa Landau Kodah,Kec. Sekadau Hilir

 No

1

2

3

Makam Raja Sultan Anum

Mesjid Jami’ Al-Taqwa

Nama Bcb

Rumah Tengkorak Landau Kondah

Desa Mungguk (Sungai Barak), Kec. Sekadau Hilir

Desa Mungguk (Sungai Barak), Kec. Sekadau Hilir

                

 4

Rumah Panjang Sui Antu Ulu

Desa Sungai Antu Hulu, Kec. Belitang Hulu

5

Meriam Keraton Sekadau

Desa Mungguk (Sungai Barak), Kec. Sekadau Hilir

6

Goa Lawang Kuari Atas

Desa Seberang Kapuas, Kec. Sekadau Hilir

7

Ex Kantor Wedana Sekadau (Rumah Ceromin)

Desa Sungai Ringin, Kec. Sekadau Hilir

                 

 8

Makan Panglima Berenggang

Desa Perongkan, Kec. Sekadau Hilir

9

Makam Raja Kematu

Desa Rawak Hilir Kec. Sekadau Hulu

             

 10

Makam Raden Sumadiman

Desa Nanga Taman, Kec. Nanga Taman

11

Geretak Gantung Penanjung

Desa Mungguk (Penanjung), Kec. Sekadau Hilir

12

Makam Daeng Panglima Ayup

Desa Lubuk Tajau Kec. Nanga Taman

13

Makam Panglima Naga

Desa Lubuk Tajau Kec. Nanga Taman

14

Kelenteng Fu Tet Chi

Desa Sungai Ringin, Kec. Sekadau Hilir

                   

  15

Pagar Tulang

  Dusun Penepah Desa Perongkan Kec.Sekadau Hulu

    

 16

Sri Kupo

Dusun Perongkan Desa Perongkan Kec.Sekadau Hulu

17

Bale

Desa Mondi Kec.Sekadau Hulu

18

Rumah Pasah

Desa Boti Kec.Sekadau Hulu

19

Tangga Bongkokng Begokng

Desa Boti Kec.Sekadau Hulu

                 

 20

Tugu Merdeka

Desa Sungai Ringin Kec.Sekadau Hilir

21

Panglima Pateh Kabut

Riam Kabut Desa Landau Kumpai Kec.Nanga Mahap

22

Panglima Lebai Serban

Riam Kebombang Desa Landau Kumpai Kec.Nanga Mahap

               

 23

Batu Rusa

Bukit Temawang Danau Desa Maboh Permai Kec.Belitang

24

Batu Betulis

Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap

25

Batu Putri

Desa Landau Kodah Kec.Sekadau Hilir

26

Batu Nyaot

Desa Semabi Kec Sekadau Hilir

27

Tempayan Kijang

Dusun Dangkung Kec.Sekadau Hulu

28

Tanggak Sempana

Desa Rawak Hilir Kec. Sekadau Hulu

29

Batu Mata

Desa Batu Mata Kec.Belitang Hulu

30

Batu Kasai

Dusun Selintah Kec. Sekadau Hulu

31

Batu Perang

Desa Seberang Kapuas Kec.Sekadau Hilir

                           

 32

Tiang Sandong

Desa Seraras Kec. Sekadau Hilir

33

Cerobong Asap

Sungai Ayak Kec.Belitang Hilir

             

 34

Bangunan Fa Kiaw

Desa Sungai Ringin Kec.Sekadau Hilir

35

Kuali Penanak Gambir

Desa Eengkuning,Kec. Belitang Hilir

36

Tiang Sandong

Dusun Konore Desa Lubuk Tajau Kec. Nanga Taman

               

 37

Tengkorak Panglima Repen

Desa Sungai Sambang, Kec. Sekadau Hulu

38

Makam Pahak Demang Kuning

Dusun Seladan, Desa Mungguk, Kec. Sekadau Hulu

             

ANG KEBUDAYAAN

  Deskripsi

  Palak Kaba' diperkirakan berusia ratusan tahun, bahkan beberapa tengkorak sudah mengalami keretakan. Tengkorak-tengkorak tersebut merupakan peninggalan kebudayaan ngayau nenek moyang masyarakat dayak zaman dahulu. Tengkorak oleh masyarakat setempat diberi nama Palak Kaba' itu disimpan disebuah bangunan sederhana dengan ukuran 3x2 meter. Palak Kaba' sarat dengan nilai mistis, disini juga sering dilakukan ritul khusus oleh masyarakat setempat.

  Sultan Anom adalah Putra Mahkota dari Pangeran Suma yaitu raja sekadau yang pertama kali mengenalkan agama islam di Kerajaan Sekadau. Pada saat Pangeran Suma Wafat Sultan Anom lah yang menggantikan ayahnya sebagai seorang Raja di kerajaan Sekadau. Yang berkedudukan di mungguk atau tepatnya Sungai Barak Sekadau.

Pada Masa Pemerintahan Sultan Anom, Raja Anom lah yang menghapuskan kebiasaan lama yang masih mengonsumsi Tuak dan Arak dan menjadikan agama Islam sebagai agama yang resmi dikerajaan sungai Barak dan mendirikan Masjid At-Taqwa. Pada akhir hidupnya dan menghembuskan napas terakhir Sultan Anom dimakamkan di tempat nya mengembankan tugas kerajaan dan tepatnya saat ini posisi makam sultan Anom di belakang Keraton Sekadau.

  Masjid Jami' At-Taqwa dibangun pada tahun 1804 Masehi, dibangunnya masjid ini menandakan bahwa kerajan sekadau pada saat itu telah memeluk agama islam. Sebelum berdiri masjid tersebut, kerjaan sekadau masih menganut kepercayaan anemisme.

      D


  Rumah Panyai Sungai Antu Hulu didirikan pada Tahun 1960, rumah panyai ini dibangun sebagai pemersatu suku, perkumpulan adat istiadat, mempermudah komunikasi yang dipimpin oleh seorang Tuwa"ak yang dianggap kuat oleh warga setempat pada waktu itu.

  Meriam-meriam ini mulai dikumpulkan pada masa pemerintahan Sultan Anum, meriam tersebut merupakan hadiah yang diberikan oleh kesultanan Pontianak yang diberi nama sigenter alam dan cina meler kepada kerajaan sekadau.

  Konon menurut cerita Lawang Kuari adalah sebuah perkampungan yang dipimpin oleh Pangeran Agong dan Ratu Kudong yang merupakan anak kandung raja sekadau Pangeran Engkong. Pangeran Agong membawa lari serta Ratu Kudong dari Sungai Barak karena kecewa dengan keputusan ayahnya Pangeran Engkong yang tidak menunjuknya sebagai raja sekadau untuk melanjutkan tahta kerajaan sekadau. Untuk menghindari pertikaian diantara anak-anak raja Pangeran Agong mengambilkan keputusan untuk merikan diri dari sungai barak serta membawa adiknya Ratu Kudong.

  Pada zaman kerajaan, Ex Kantor Wedana (Rumah Ceromin) digunakan raja-raja sekadau sebagai tempat bertemu dengan para tamu kerajaan. Setelah Indonesia Merdeka dan Sekadau Bergabung dengan NKRI rumah ceromin tersebut difungsikan sebagai kantor pemerintahan kecamatan. Untuk saat ini kondisi bangunan 70% rusak berat.

      

   Raja Berenggang adalah seorang tokoh masyarakat yang terkenal dengan kesaktiannya. Dia sangatlah pemberani dan perkasa. Konon katanya beliau berasal dari Sub Suku ketungau. Raja berenggang ini memiliki tujuh orang istri, namun salah satu dari istrinya meninggal dikarenakan istrinya melanggar titahnya. Dimasa hidupnya beliau selalu melindungi warganya dari ancaman luar. Karena pada masa itu masih terjadi perang ngayau yang mana salah satu syarat seorang lelaki ingin mempersunting mempelai wanita harus mempersembahkan kepala manusia untuk dipersembahkan di bait adat agar dapat diterima dan memiliki Derajat yang tinggi. Raja Berenggang wafat bukan karena sakit, tetapi karena kemauannya sendiri karena pada saat sebelum beliau wafat ia membuat sebuah pernyataan beliau bersemayam cukup sampai pada 12 keturunan saja dan itu adalah pada anak sulung laki – lakinya dan akhirnya beliau pun wafat di desa Perongkan, Dusun Kampung Suka Dani Kecamatan Sekadau Hulu untuk mengingat jasa semasa hidupnya oleh masyarakat perongkan dan diikuti oleh keturunannya dengan acara adat setempat pada tanggal 11 Desember 1983 mereka membangun kembali Makam Raja Berenggang di Desa Perongkan, Dusun Kampung Suka Dani, Kecamatan Sekadau Hulu.

Bentuk makam diambil bentuk profil Tiang Sandong dengan ukuran ± 2 m rata – rata 15 cm dan diatasnya dibuat 2 ( dua ) gundukan Cemplon 50 cm dan 1 ( satu ) cula kuncup separuh ke atas dan sertai simbol arca Burung Enggang Satu Ekor, sayap terbuka menghadap matahari terit yang semua bahan dibuat dari kayu ulin ( Tebelian ). Masyarakat sampai saat ini masih mempercayai bahwa makam ini sebagai tempat berniat dan perlindungan. Masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Tiang Sandong berenggang.

  Makam Raja Kematu merupakan tempat pemakaman kalangan raja Kematu yang diantaranya adalah makam Pangeran Kadar sutadilaga Ibnu, Pangeran Engkong Prabubaya, Pangeran Suma Dilaga Ibnu dan Pangeran Kadar Sutadilaga. Dilihat dari Sejarah Kerajaan Sekadau konon katanya Kerajaan Sekadau berasal dari daerah Kematu. Raja Pertama Sekadau adalah Pangeran Engkong, dan Raja ini memiliki tiga Orang Putra dan satu orang putri. Sesudah Pangeran Engkong wafat, kerajaan diteruskan oleh Putra keduanya yaitu Pangeran Kadar karena dinilai lebih bijaksana dari putra-putranya yang lain Karena kecewa, Pangeran Agong bersama Ratu Kodong kemudian meninggalkan Sekadau menuju daerah Lawang Kuari. Sedangkan Pangeran Senarong kemudian menurunkan penguasa kerajaan Belitang. Nah setelah Pangeran Kadar Wafat tahta kerajaan jatuh kepada Putra Mahkotanya Yaitu Pangeran Suma. Cerita lebih lengkapnya bisa lihat sejarah kabupaten Sekadau.

     

  Sejak berdirinya Kerajaan Sekadau yang dipimpin oleh Sultan Anum, Wilayah kekuasaan yang meliputi Belitang (Sungai Kapuas) dan seluruh desa (Kampung) yang ada di pedalaman sungai Sekadau. Sultan diberilah wilayah kekuasaan yang meliputi sepanjang sungai Sekadau desa Sekonau (Sekarang) sampai ke Desa Nanga Mahap (dulunya) dan diangkatlah beliau menjadi Pemangku Kerajaan Sekadau dengan Wilayah yang tidak ditetapkan dan kemudian diberikan gelar Raden Sumadiman. Raden Sumadiman tercatat Meninggal Dunia pada tahun 1838 yang kemudian dituliskan dimahkamnya.

  Geretak Gantung Penanjung merupakan jembatan bersejerah peninggalan Belanda, Jembatan ini dulunya merupakan satu-satunya jembatan yang digunakan oleh masyarakat untuk melintasi sungai sekadau.

  Panglima Ayup dinobatkan sebagai panglima dayak di Kerajaan Sekadau oleh raja sekadau pada masa itu atas jasanya pada peperangan melawan suku samaruang ( wilayah sepauk )

  Panglima Naga merupakan salah satu pejuang suku dayak dari Desa Lubuk Tajau yang ikut andil dalam peperangan melawan penjajah jepang dalam merebut kemerdekaan NKRI.

  Klenteng Fu Thet Cih merupakan suatu Bangunan yang didirikan oleh masyarakat etnis Tionghoa di Kabupaten Sekadau untuk dijadikan tempat beribadah. Bangunan Klenteng ini pada awal mulanya beridiri di Area pasar Sekadau (Kini menjadi Starmarket) pada tahun 1889 lalu dipindahkan ke Area Jl. Irian Sekadau pada Tahun 90-an, Sejak saat itu bangunan Klenteng tidak berubah bentuk hingga saat ini, desain bangunan serta properti yang berada di dalam atau pun diluar Klenteng tidak ditambah ataupun di .kurangi. Klenteng juga memiliki aturan atau adatnya tersendiri, seperti yang dikatakan oleh Pak Acin selaku Budayawan Tionghoa mengatakan bahwa Cat yang sudah ada di Klenteng tidak boleh diubah warnanya dan untuk pondasi masih menggunakan Kayu Belian sebagai Dasar.

      

    Pagar Tulang pada masanya merupakan awal dari berdirinya sebuah Kampung, dimana satu perkampungan tersebut terletak di suatu daerah Bernama Ensari Lebur, yang kini masuk dalam wilayah Dusun Penepah Desa Perongkan Kecamatan Sekadau Hulu. Awal mulanya kampung ini ditinggali

Enam bulan kemudian sepasang pengantin yang berhasil melarikan diri kemabli lagi ke Kampung mereka, ketempat dimana kejadian pembunuhan dan pembakaran terjadi. Dengan berat hati dan sedih yang melanda mereka mengumpulkn sisa-sisa tulang belulang warga yang mereka temui, lama waktu yang mereka habiskan untuk mengumpulkan sisa sia tulang belulang tersebut yaitu tiga hari lamanya, setelah dikumpulkan mereka meletakan tulang tersebut ke tanah dan memagari wilayah tersebut dengan tulang, oleh sebab itu wilayah tersebut dinamakan dengan “Pagar Tulang”.

  

  Belum Ada Deskrpsi

  Belum Ada Deskrpsi

  Rumah Pasah merupakan sebuah Rumah tempat penyimpanan barang- barang pusaka milik masyarakat adat Suku Dayak Jawant, yang berada di Desa Boti, Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau, Rumah Pasah berdiri atas dasar perjalanan Suku Dayak Jawant dimulai dari perjalanan, peradaban hingga menempati satu wilayah yang kini dinamai Desa Boti dan sekitarnya. Adapun Harta Warisan yang terdapat di dalam Rumah Pasah adalah milik Bersama yang disebut dengan;”Pasah Raurangah, Boti tanah Berani, Mangu Raja Dalu, Tajo Lampong, Tajo Sengkapung, Sengilang Patah Tiga, Dara Dumbong, Buluh Tempayong, Saron Tempada Besi Baja, Sengkubak Limbong Danan Lesong dan Sopan Gontuk Danau Kelauk”. Rumah Pasah berdiri di atas Tanah seluas 600 Meter dengan bentuk Rumah 5x4 meter menghadap ke arah Barat.

  Situs Cagar Budaya Tanggak Bengkokng begonkng merupakan situs yang berada di di Dusun Boti, Desa Boti, kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau. Tanggak ini memiliki Panjang mencapai 12 Meter dari darat menuju Dasar sungai yag terbuat dari Kayu Tebelian, Tangga tersebut digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai akses ke aliran Sungai Menterap. Dahulu masyarakat mengunakan jalur sungai sebagai transporatasi menuju tempat lainya, oleh karena itu tangga tersebut dibuat, dengan cara di pahat, hingga kini tangga masih dipergunakan oleh masyarakat sebagai akses menuju sungai, walaupun bagaian- bagian dari tangga tersebut sudah mengalami kerusakan oleh karena termakan usia atau zaman.

      

   Tugu Merdeka merupakan salah satu benda Cagar Budaya Milik Kabupaten Sekadau, Tugu ini berdiri di tengah Kota Kabupaten Sekadau tepatnya berada di Pasar yang berdekatan langsung dengan aliran Sungai Kapuas, asal mula sejarah Tugu Merdeka ini dibuat oleh seorang Kiayi yang bernama Kiayi Mersyid, yang juga pada masanya turut menjadi Mandor perkerja pembangunan Geretak (Jembatan) Gantung Penanjung, dan dahulu juga membangun Jalan Raya di Kabupaten Sekadau. Beliau juga merupakan Tangan Kanan atau orang kerpercayaaan kerajaan Keraton Kusumanegara, oleh karena itu diberi kepercayaan untuk membangun aset Cagar Budaya yang dimiliki Kabupaten Sekadau higga saat ini. Sejarah Mencatat bahwa Tugu Merdeka dahulunya Bernama Tugu 45 yang dibangun kisaran tahun 1946 atau 1947 yakni sebagai penanda kemerdekaan Republik Indonesia. Bentuk dan desain Tugu Merdeka dari dulu hingga saat ini tidak berubah serta titik Koordinat Tugu juga tidak berpindah. Pada tahun 1963 Kabupaten Sekadau sempat dilanda Banjir besar yang membuat pemukiman di Kabupaten Sekadau terendam Banjir termasuk Tugu Merdeka ini, namun hal tersebut tidak membuat Tugu mengalami kerusakan oleh karena tingginya debit air. Hingga saat ini Tugu Merdeka masih menjadi salah satu Icon Kabupaten Sekadau yang ada dan masih menjadi perhatian dan di jaga oleh Pemerintah Kabupaten Sekadau.

  Pateh Kabut merupakan pejuang masyarakat sub suku Dayak Ntorap kabut, tepatnya berada Desa Landau Kumpai, Kecamatan Naga Mahap, Kabupaten Sekadau. Pateh atau Patih sebutan masyarakat setempat sebagai bentuk dari seorang panglima, atau pemimpin dalam perang pada masanya. Menurut masyakat setempat, pateh kabut banyak meninggalkan barang-barang atau benda pusaka seperti senjata tajam dan beberapa barang antic yang dimilikinya yang disimpan disekeliling mahkam. Masyarakat percaya bahwa dengan adanya Pateh Kabut dapat melindungi dan mensejahterakan orang kampung/desa yang berada di sekitarnya termasuk sub suku Dayak Ntorap Kabuta yang memiliki keunikan tersendiri terkait nada bicara, Bahasa dan aksen Ketika bertemu sesama sub suku nya.

  Belum Ada Deskrpsi

     

  Pada waktu dulu salah satu keluarga yang bernama Pamah dan anaknya Nanyau. Suku mereka adalah Mualang yang mana pada waktu itu sering disebut mualang Tanyong dan sampai saat ini dipedalaman Kecamatan Belitang masih dikatakan Mualang Tanyong. Pada suatu hari Pamah dan anaknya (Nayau) berburu ( Ngasu) Binatang dibukit temawang danau.mereka melihat seekor rusa dan melempar rusa itu dengan tobak (sangkoh) mengenai punggung rusa itu. Pamah dan anaknya Nanyau mengejar rusa yang sudah terluka itu sampai kesungai geranah dan betapa terkejutnya mereka begitu melihat rusa yang terluka itu berubah menjadi batu. Maka sampai sekarang batu itu disebut Batu Rusa.

  Batu bertulis adalah Obyek Daya Tarik Wisata, yang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Hindu di Kalimantan. Batu bertulis berada dekat sungai Tekaret anak sungai Mahap, Kampung Pait , Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap, jaraknya 75,85 km dari ibu kota kabupaten Sekadau. Batu bertulis dipahatkan pada sebuah batu andesit dengan tinggi sisi kiri batu tersebut 2 meter, sisi kanan 3,90 m panjang 5,10 m dan lebar 1,2 meter dengan volume sekitar 38 meter kubik. Batu bertulis telah dilakukan penelitian oleh tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1982.

beberapa bagian batu sudah tampak gerusan akibat faktor alam.Meski demikian, tulisan dan ukiran pada batu tersebut masih utuh. Untuk melindungi situs telah dibangun cungkup dan pagar keliling. Untuk menempuh perjalanan menuju ke lokasi Batu Bertulis, hanya bisa dilalui menggunakan kendaraan roda dua. Membutuhkan waktu sekitar 30 menit perjalanan dari pusat Kecamatan Nanga Mahap.

  Belum Ada Deskrpsi

  Belum Ada Deskrpsi

  Belum Ada Deskrpsi

  Belum Ada Deskrpsi

  Belum Ada Deskrpsi

  Belum Ada Deskrpsi

  Belum Ada Deskrpsi

      

Tiang Sandong, merupakan sebuah tiang Adat yang berada di Desa Seraras, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Tiang ini awal mulanya didirikan oleh Suku Dayak Gonis pada masanya, tujuan didirikan Tiang Sandong ini adalah untuk menyimpan Kepala-kepala hasil Kayau oleh Suku Dayak Gonis. Karena pada masa itu Ketika seorang pria ingin meminang seorang wanita maka pria tersebut harus menunjukan kekuatan atau keperkasaannya dengan memenggal kepala untuk dipersembahkan kepada Orang Tua dari wania tersebut.

Wilayah Kecamatan Belitang Hilir Kabupaten Sekadau, dengan Ibu Kota Kecamatan yaitu Sungai Ayak sudah sejak 1 Abad yang lalu dikenal sebagai daerah penghasil Emas Terbaik di Kalimantan Barat. Adapun salah satu saksi sejarah penambangan Emas di Sungai Ayak adalah Kepala Lokomotif Uap atau biasa masyarakat menyebutnya dengan Cerobong Asap, yang kemungkinan digunakan untuk memompa air guna keperluan penambangan emas pada zaman dahulu, bahkan jauh sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia. Walaupun tidak ada catatan pasti tahun berapa benda tersebut di buat, melihat dari tahun produksi benda tersebut di produksi pada tahun 1800 s/d 1900 di Benua Eropa, jadi dapat dipastikan penambangan Emas du Sungai Ayak telah berusia lebih dari 150 Tahun dan menandakan kedatangan para leluhur suku Tionghoa di Sungai Ayak. Kini Cerobong Asap tersebut menjadi benda peninggalan Sejarah yang terletak di Sungai Ayak yang kemudian dibuatkan tugu dan pagar pembatas sebagai bentuk dari monument peninggalan sejarah, peringatan Teknologi Penambangan Emas sebagai Benda Cagar Budaya.

      

Sejarah Mencatat Awal mula berdirinya Bangunan Fa Kiaw dirikan ditanah milik pribadi yaitu miliki seorang Bernama Alaw Remaja, lalu di kemudian hari, Alaw Remaja memiliki Hutang dengan seseorang pengusaha (Bos) yang berasal dari Pontianak, untuk melunasi hutang terebut, beliau menggunakan luas tanah

yang ada untuk membayar hutangnya, tanah yang ada dahulu masih dijadikan sebagai lahan perkebunan, setelah hak miliki diserahkan barulah Gedung Fa Kiaw didirikan yang difungsikan sebagai Gedung Sekolah. Bangunan ini berdiri sejak 1956 dan digunakan hingga tahun 1965. Pembangunan Gedung sekolah tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat yang kini nama-nama

masyarakat yang membangun tercatat dalam arsip kebudayaan milik masyarakat.

Pada Masa Orde Lama yaitu G30SPKI terjadi penghapusan sekolah Bahasa Mandarin, lalu kemudian bangunan di ambil alih oleh pemerintah, untuk penghapusan sekolah, hanya sekolahnya saja yang dihilangkan sedangkan untuk nama bangunan, properti dan tanah masih dimiliki oleh masyarakat Tionghoa di Kabupaten Sekadau, namun terkait berkas sebagai bukti hak kepemilikian lahan dan bangunan pada era 1980an habis terbakar dan tidak ada tersimpannya surat kepemilikian. Kini Gedung Fa Kiaw hanya difungsikan sebagai bangunan Olahraga yang bertahan hingga saat ini.

Sebuah kuali penanak gambir dalam ukuran besar menjadi barang peninggalan sejarah dari masa Penjajahan Belanda, terdapat di kawasan Engkuning, Kabupaten Sekadau, Kalbar.

Menurut Y Beatus, salah satu pewaris kuali tersebut menceritakan kuali tersebut didapatkan dari zaman kakeknya yang hidup semasa penjajahan Belanda. Kuali penanak gambir yang biasa disebut warga setempat sebagai Kawah Gamer itu tetap pada posisi yang ada sekarang, tanpa berpindah tempat. "Dahulu kakek saya, Gandi yang mendapatkan kuali itu dari penjajah, karena menurut kisahnya almarhum kakedan beberapa kawannya adalah tukang masak gambir. Gambir dahulu katanya sebagai bahan pencelup kain, dulunya ada empat orang warga indonesia yang dipekerjakan menanak di satu kuali itu. Selain itu kakek juga menceritakan jika pekerjaan mereka adalah pekerjaan wajib untuk mencari kayu bakar setiap harinya, kayu juga terbilang besar karena selain menyediakan buat menanak gambir, kayu juga untuk kapal penjajah," jelas Kakek tiga cucu yang berusia 55 tahun itu. Dia mengungkapkan tak bisa dipungkiri, kuali itu bisa berusia ratusan tahun, sebab semasa kecil saya dulu sudah melihat kuali itu ditempat sekarang ini. Belum Ada Deskrpsi

     

Panglima Repen, merupakan Panglima asal suku Dayak seberuang kabupaten Sintang, Panglima ini pada masanya berperang melawan Panglima Mape dari Suku Dayak Jawan’t, menurut dari sumber yang didapat, tragedi ini terjadi kisaran tahun 1939 hingga 1942, pada masa itu Panglima Mape berhasil mengalahkan panglima Repen yang kemudian kepala dari panglima Repen dibawa pulang berserta enam orang prajuritnya ke daerah Sungai Sambang, di antara enam prajurit yang ada, terdapat satu tengkorak yang memiliki ukuran lebih besar dari tengkorak lainnya yaitu tengkorak Mande yang merupakan wakil dari panglima Repen Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau. Sedangkan tengkorak panglima Repen sendiri hanya tersisa tempurung kepalanya saja oleh karena masyarakat sekitar pada tempo yang lalu sering mengambil serpihan-serpihan kepalanya untuk berdukun, jimat, dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan sacral. Tengkorak ini nantinya akan di berikan sesajen atau diberi makan pada saatnya Tiba.

Makam ini terletak diantara Lawang Siti dan Dusun Seladan dalam sungai Sekadau, jika menggunakan kendaraan roda dua dapat dilewati melalui Jalan Sintang Km 4 masuk ke lokasi kurang lebih dua Km. Sudah tidak asing lagi sebagian masyarakat Sekadau yang namanya “MAKAM PAHA DEMANG KUNIN” menurut cerita yang kami himpun dari tetua/sesepuh yang dapat dipercaya. Bahwa makam yang usianya ratusan tahun ini hanya terbuat dari batu biasa, setelah di ilhami melalui mimpi beberapa orang, ternyata itu adalah Kuburan Paha Inik Kamonink.Makam tersebut panjangnya 3 meter lebih. Untuk melestarikan bukti sejarah tersebut, maka kurang lebih 15 tahun yang lalu direnovasi kembali oleh penduduk Desa Mungguk “Hasan Dego” dengan menggunakan semen. Pada zaman dahulu, makam ini sering dikunjungi oleh orang-orang yang mempunyai maksud tertentu, dan tak sedikit temuan-temuan ganjil/aneh sebagai cerita pribadi orang yang apabila kebetulan melewati makam ini dimalam hari terutama melewati jalur sungai, karena letaknya tidak jauh dari pantai sungai Sekadau.

      


Iklan