Iklan

HUT PEMDA

HUT PEMDA
,

Apkasindo Sekadau Minta Pemerintah Atasi Turunnya Harga TBS Usai Jokowi Larang Ekspor Minyak Goreng

by Redaksi
April 26, 2022, 19:47 WIB Last Updated 2022-04-26T12:47:36Z
Ilustrasi

SEKADAU, SK - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mengalami penurunan usai Jokowi melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng. 


Semula harga TBS di Kabupaten Sekadau per Senin, 25 April 2022, masih berkisar Rp 2.500 per kilogram. Namun, Senin sore, harga TBS merosot dan menyentuh angka Rp 1.600 per kilogram.


Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kabupaten Sekadau, Sunardi, mengaku pihaknya terkejut dengan keputusan Presiden Jokowi yang melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng. 


"Kami memahami tujuan pemerintah adalah untuk menjaga harga dan kebutuhan di dalam negeri, tetapi ini dirasa merugikan sepihak bagi petani sawit di wilayah Sekadau," ungkap Sunardi, Selasa (26/04/2022).


Sunardi mengungkapkan, kini harga TBS sawit menyentuh angka Rp 1.600 per kilogram. Harga tersebut turun hanya dalam hitungan jam. 


"Petani yang sedang giat memanen sawit merasa kecewa dengan keputusan ini," ujarnya.


Pihaknya dari Apkasindo Kabupaten Sekadau berharap, pemerintah mencarikan solusi terhadap persoalan tersebut. Meskipun kebijakan larangan ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng berlaku mulai 28 April 2022, tetapi pembeli sawit, koperasi produsen sawit sudah terlebih dahulu menanggapi aturan pemerintah ini dengan membeli TBS dalam harga murah.


"Apakah berdampak? Tentu saja sangat berdampak. Kemarin (Senin) terus terjadi antrean panjang di beberapa perusahaan yang membeli TBS di Kabupaten Sekadau. Ini menunjukkan kekhawatiran kita sangat masif," jelasnya.


Apkasindo Kabupaten Sekadau juga akan mengambil langkah-langkah dalam menghadapi masalah sawit tersebut. Sunardi berharap pemerintah bergerak cepat untuk mengatasi masalah tersebut.


"Karena ketidakpastian harga (TBS sawit) akan berdampak kepada masalah sosial di masyarakat. Ini yang kita takutkan terjadi. Tidak ada keseimbangan dalam nilai ekonomi. Petani sawit Sekadau sedang menjerit. Semoga pemerintah Kabupaten Sekadau dapat ikut mengambil langkah cepat terkait hal ini," tutur Sunardi.


Minta Harga Pupuk Diturunkan


Salah satu petani sawit, Aji, mengaku kecewa dengan turunnya harga TBS sawit. Jika harga TBS terus turun kondisi tersebut tentunya akan membuat petani sawit menjerit.


"Kalau harga TBS turun, kita juga berharap harga pupuk turun. Kita ambil contoh beli pupuk NPK Mutiara, dulu harganya Rp 500 ribu per karung sekarang lebih dari Rp 800 ribu per karung," ucapnya.


Ia menilai penurunan harga TBS sawit tersebut dilakukan sepihak. Untuk itu, Aji berharap, pemerintah mengambil langkah cepat mengatasi masalah tersebut.


"Mudah-mudahan turunnya harga TBS tidak lama. Kalau masalah pupuk ini petani sudah lama teriak (mahal)," tutupnya.

Iklan