Notification

×

Iklan

Iklan

Harga Cabai Sempat Tembus Rp 150.000, Ini Penjelasan Dirjen Hortikultura!

Rabu, 10 Maret 2021 | Maret 10, 2021 WIB Last Updated 2021-03-10T06:45:46Z
Ilustrasi/Net
JAKARTA - Harga cabai rawit merah mengalami kenaikan yang luar biasa beberapa pekan belakangan. Tak hanya di Ibu Kota, wilayah lain di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Kenaikan itu diduga akibat cuaca ekstrem yang mengakibatkan kurangnya pasokan cabai dari petani ke pedagang.

Hal itu juga yang dikatakan oleh sejumlah pedagang di pasar tradisional, Jakarta Selatan. Salah satu pedagang bumbu, Hadi menduga stok yang minim di Pasar Induk Kramat Jati karena produksi dan panen dari petani yang berkurang.


Harga naik karena stok di Kramat Jati juga berkurang, itu karena produksi dan panen dari petani yang juga berkurang akibat cuaca dan lahan mereka gunakan bukan hanya menanam cabai saja,” ujar Hadi, kepada tim rekan media, Rabu (10/3/2021).

Sementara Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan berdasarkan data series produksi 5 tahun terakhir, produksi cabai rawit pada bulan Desember-Februari berstatus waspada, karena produksinya yang cenderung menurun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Dia mengungkap, hal itu menyebabkan produksi terganggu, seperti bunga rontok yang menyebabkan gagal berbuah.

“Tak hanya itu, musim hujan juga meningkatkan serangan OPT seperti virus kuning, antraknosa, lalat buah, dan lain sebagainya,” ujar Anton dalam keterangan tertulis, Senin (8/3/2021).

Anton juga mengungkap cuaca ekstrem juga menyebabkan banjir di beberapa wilayah sentra produksi cabai, dampaknya pertanaman rusak bahkan puso. Dari data Direktorat Perlindungan Hortikultura, total luas pertanaman cabai nasional yang banjir dan puso pada bulan Oktober-Desember 2020 seluas 431 hektare yang tersebar di Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. Sedangkan pada Januari-Februari 2021 seluas 404,7 hektare di Kalsel, Sumut, Sumbar, Sulteng, Kalbar, Jambi, Jatim, dan NTT.

Ketua Asosiasi Cabai Indonesia dan Juhara, Hamid membenarkan hal tersebut. Pihaknya menjelaskan berdasarkan pantauan dari seluruh anggota perwakilan di daerah sentra, berkurangnya produksi cabai saat ini dikarenakan berkurangnya luas tanam.

Sebelumnya petani sempat merugi karena rendahnya harga cabai akibat pandemi COVID-19 yang terjadi pada bulan Maret-September 2020. Hal tersebut membuat banyak petani tidak balik modal bahkan merugi. Sehingga pada musim tanam saat ini mereka mengurangi populasi pertanaman cabainya. Luas tanamnya berkurang sehingga produksi juga berkurang. Jadi efek berantai tersebut menjadi akumulasi terhadap penurunan produksi.

Meski kini harga cabai rawit merah melambung tinggi, harga cabai lainnya tidak mengalami kenaikan. Harga cabai merah panjang dan cabai rawit hijau stabil di harga Rp 60 ribu per kilogram. Sedangkan, harga cabai merah besar dan cabai hijau besar tetap di harga Rp 40 ribu per kilogram.

Pedagang berharap, harga cabai rawit merah bisa turun di bawah Rp 100 ribu per kilogramnya jelang dan saat ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. (*/lk)

×
Berita Terbaru Update